Penyesalan Tak Bertepi Menyelisihi Jalan Rasulullah ﷺ

Penyesalan Tak Bertepi Menyelisihi Jalan Rasulullah ﷺ

Khuthbah Cinta Quran Center | Vol. 2/ No. 25 | Topik: Manhaj

Download PDF Naskah Khuthbah Jumat >> 25-Khuthbah CQC Vol. 2 No. 25 – Bahaya Menyelisihi Jalan Rasulullah ﷺ


الخطبة الأولى

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ، أوصيني وإياكم بتقو الله، وقد قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {النساء: ١}

Hadirin jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, berakidah Islam dan beramal dengan syari’at Islam, sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Hadirin jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-

Penyesalan terbesar datang tatkala manusia tak punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, tidak ada waktu untuk kembali, tidak ada kesempatan meratapi diri, yang ada berangan-angan kosong yang takkan pernah terealisasi, menjadi penyesalan tak bertepi. Hingga berharap dahulu di dunia tercipta menjadi tanah yang terinjak-injak terhinakan, menjadi tempat berlabuhnya debu dan kotoran:

  إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا ٤٠

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (QS. Al-Naba’ [78]: 40)

Kalimat yâ laytanî kuntu turâb[an] dalam ayat yang agung ini, menunjukkan kepada kita bahwa tanah yang terinjak-injak di dunia lebih baik keadaannya bagi manusia yang ingkar kepada Allah di akhirat kelak. Apakah penyesalan mereka bermanfaat? Tidak:

وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ ٢٣ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي ٢٤

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” (QS. Al-Fajr [89]: 23-24)

Salah satu penyesalan mendalam yang takkan bisa ditanggulangi adalah penyesalan orang yang zhalim akibat menyelisihi jalan Rasulullah ﷺ dan fanatik mengikuti jejak kesesatan orang lain akibat menjadikannya sebagai teman dekat (khalîl):

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ٢٧ يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ٢٨ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا ٢٩

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqân [25]: 27-29)

Itulah hari dimana mereka yang menyelisihi jalan Rasulullah ﷺ di dunia seraya memilih jalan-jalan kesesatan akan mendapati penyesalan tak bertepi di akhirat kelak. Kalimat ya’adhdhu al-zhâlim ‘alâ yadayhi (hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya) menjadi kiasan (al-kinâyah) dari besarnya penyesalan mereka kelak di akhirat, hingga digambarkan menggigit kedua tangan, menjadi kiasan dari menggigit jari jemari itu sendiri (al-majâz al-mursal bi al-‘alâqah al-kulliyyah).

Hadirin jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-

Meskipun turunnya ayat ini berkaitan dengan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith (al-zhâlim) yang disesatkan Ubay bin Khalaf (fulân[an] khalîl[an]), jelasnya berlaku bagi setiap orang zhalim dan yang menyesatkannya, sebagaimana ditegaskan al-Hafizh Ibn Katsir dalam tafsirnya, dinukilkan Prof Dr Muhammad Ali al-Shabuni dalam Shafwat al-Tafâsîr (II/331).

Menariknya, al-Qur’an surat al-Furqân ayat 27-29 memberikan panduan bagi setiap insan, menilai benar tidaknya suatu jalan, dikembalikan pada kesesuaiannya meniti jalan yang ditempuh Rasulullah ﷺ, yang menuntun manusia menapaki satu-satunya jalan menuju Allah. Kalimat ma’a al-rasûl dikedepankan daripada lafal sabîl[an], menegaskan sekaligus mengkhususkan (qashr) bahwa satu-satunya jalan kebaikan tersebut hanya jalan yang ditempuh Rasulullah ﷺ.

Diksi sabîl[an] (jalan) dipilih untuk menggambarkan keyakinan (’aqîdah) dan amal perbuatan (syarî’ah) yang ditegakkan Rasulullah ﷺ dalam menyusuri jalan kehidupan. Akidah Islam sebagai fondasi kehidupan, dan syari’at Islam sebagai satu-satunya aturan yang diterapkan. Memilih selain akidah dan syari’at Islam sebagai dalam menjalani kehidupan adalah kezhaliman dan menjadi sebab penyesalan mendalam.

Tidak ada jalan lain, mengingat diksi sabîl[an] (jalan) diungkapkan dalam bentuk kata tunggal (al-mufrad), menegaskan berbagai petunjuk pasti (qath’î) jalan Rasulullah ﷺ sebagai satu-satunya jalan kebenaran, meraih kebahagiaan. Apakah jalan penuh kebingungan ala filosof; Plato (429-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), Machiavelli (1467-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke  (1632-1704), Montesquieu (1689-1755), Jean Jacques Russeau (1712-1778), Adam Smith (1723-1790), David Ricardo (1772-1823), Karl Marx (1818-1883), Friedrich Engels (1820–1895), dan yang semisalnya layak dijadikan jalan tandingan bagi jalannya Rasulullah ﷺ menuju Allah?

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


الخطبة الثانية

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Hadirin jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-

Hendaknya ingat dengan firman Allah:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ صلى ‏وَسَاءَتْ مَصِيرًا ١١٥

“Dan siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk, dan mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir-pen.) kemudian Kami seret ke dalam jahannam. Dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 115)

Ancaman serius, “Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir) kemudian Kami seret ke dalam jahannam”, jelas merupakan peringatan keras yang tidak boleh diabaikan barang sejenak.

Apa sebab kesesatan mereka? Diperjelas dalam ungkapan laytanî lam attakhidz fulân[an] khalîl[an] (kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku), karena lafal fulân menjadi kiasan lain (kinâyah) dari orang yang menyesatkan, al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) dalam tafsirnya (XIII/26) menuturkan bahwa lafal fulân dipilih sebagai julukan lain (kinâyah) dari sosok yang namanya disamarkan agar peringatan ayat ini berlaku bagi seluruh orang yang melakukan perbuatan serupa, menunjukkan resiko ketika menjadikan orang yang tersesat sebagai teman pergaulan, terlebih sebagai panutan.

Alangkah agungnya pesan di balik hadits dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ»

“Janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang beriman, dan jangan ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.” (HR. Ahmad, Al-Tirmidzi)

Hadits ini menganjurkan bergaul dan bersahabat dengan orang yang beriman dan bertakwa, diumpamakan dengan ungkapan, tidak memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa, diperjelas atsar ’Umar bin al-Khaththab r.a. –sebagaimana diketengahkan al-Imam al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah (XIII/191)-: “Janganlah engkau berkawan dengan orang yang keji, karena ia akan menjerumuskanmu ke dalam kedurhakaan, dan janganlah engkau sampaikan rahasiamu kepadanya, dan hendaklah bermusyawarah dalam urusanmu dengan mereka yang takut kepada Allah.”

Hadirin jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-

Kepada Allah kita berdoa dijauhkan dari fitnah dunia dan akhirat:

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

سُبْحانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمّا يَصِفُونَ وسَلامٌ عَلى المُرْسَلِينَ والحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العالَمِينَ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ


Dukung Lahirnya 1 Juta Dai Quran!

Jadilah bagian dari perjuangan dakwah ini dengan menjadi Orang Tua Asuh dalam program Beasiswa Dai Quran (BDQ).

📍 Kunjungi: cintaquran.center/orang-tua-asuh

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Update lain

Logo Cinta Quran Center

CintaQuran Center merupakan Pesantren Tahfizh Al-Quran yang terintegrasi dengan Program pendidikan kaderisasi untuk melahirkan Da’i yang siap menggemakan kecintaan Umat terhadap Al-Quran.

© Copyright CintaQuran®Center All Rights Reserved.