Mewaspadai Fitnah Akhir Zaman: Penyeru Kepada Jahannam
Khuthbah Cinta Quran Center Vol. 3/ No. 2 | Topik: Akhir Zaman
Download naskah khuthbah PDF >>> 2-Khuthbah CQC Vol. 3 No. 2 – Mewaspadai Para Penyeru Kepada Jahannam
الخطبة الأولى
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ، أوصيني وإياكم بتقو الله، وقد قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {النساء: ١}
Jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-
Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, berakidah Islam dan beramal dengan syari’at Islam, sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)
Jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-
Di antara fitnah akhir zaman yang dikabarkan Rasulullah ﷺ, adalah fitnah munculnya penyeru kepada pintu-pintu jahannam (du’ât ’alâ abwâb jahannam), dimana fenomena tersebut bukan terjadi di masa generasi terbaik umat ini, melainkan di masa jauh setelahnya, setelah jauh dari ajaran-ajarannya, dan memahami peringatan ini menjadi pelajaran wa’yu siyâsî (kesadaran politik) mengidentifikasi dan memetakan ancaman keburukan.
Itu semua tergambar dalam dialog Hudzaifah bin Yaman r.a. dan Rasulullah ﷺ dalam hadits: “Orang-orang semua bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, sementara aku (Hudzaifah r.a.) bertanya tentang keburukan karena aku takut akan menimpa diriku. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kami ini telah melewati masa jahiliyyah dan keburukan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?” Beliau menjawab, “Ya.” Aku, “Apakah setelah keburukan itu akan kembali datang kebaikan?” Rasulullah ﷺ, “Ya, tapi ada sedikit kabut (ketidakjelasan).” Aku, “Apa kabutnya?” Rasulullah ﷺ bersabda, “Adanya kaum yang tidak melaksanakan sunnahku dan tidak berpedoman pada petunjukku. Ada yang kamu dukung perbuatan mereka ada pula yang kamu ingkari.” Hingga sampai kepada pertanyaan Hudzaifah r.a.: “Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan?” Rasulullah ﷺ menjawab:
«نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا»
“Ya, kaum yang menyeru di pintu-pintu jahannam, siapa yang memenuhinya akan terhempas ke dalamnya.”
Hudzaifah r.a.: “Tolong gambarkan kaum tersebut kepada kami ya Rasulullah.” Beliau ﷺ menjawab:
«نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا»
“Orang-orang dari kulit kita sendiri dan bicara dengan bahasa kita.”
Hudzaifah r.a.: “Wahai Rasulullah, apa saran anda jika aku mendapatinya?” Beliau ﷺ menjawab:
«تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ»
“Tetaplah bergabung pada jama’ah kaum Muslim dan imam mereka.”
Hudzaifah r.a.: “Bila tidak ada jama’ah tidak pula ada imam?” Beliau ﷺ menjawab:
«فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»
“Tinggalkan semua kelompok itu meski kau harus menggigit akar pohon sampai kematian mendatangimu dalam keadaan seperti itu.” (HR. Al-Bukhari, Muslim)
Jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-
Kalimat: du’ât ’alâ abwâb Jahannam menunjukkan adanya mereka yang menyeru kepada pintu-pintu Jahannam, dimana fenomena ini terjadi jauh-jauh hari setelah masa Rasulullah ﷺ, dimana lafal du’ât sebagai jamak dari dâ’i menunjukkan banyaknya jumlah mereka (kolektif). Bukan hanya banyak tapi juga beragam (beragam jenis kelompoknya), mengingat lafal du’ât[un] diungkapkan dalam bentuk nakirah, dan ia sebagaimana kaidah yang disebutkan Syaikh ’Atha bin Khalil dan para ulama:
النكرة تفيد التعدد والإبهام
“Al-Nakirah berfaidah pada keragaman jenis dan keluasan cakupannya.”
Bahkan bukan hanya beragam kelompok, tapi juga beragam bentuk penyimpangan dan seruannya, ditandai lafal abwâb berbentuk jamak, menunjukkan banyaknya pintu kepada Jahannam, yakni beragam kebatilan itu sendiri. Dimana kalimat du’ât[un] ’alâ abwâb jahannam ini bermakna kiasan dengan menyebutkan akibat “menyeru kepada pintu-pintu Jahannam”, namun yang dimaksud adalah sebabnya “menyeru kepada hal-hal yang bisa menyebabkan seseorang disiksa dalam Jahannam” (al-majâz al-mursal bi al-’alâqah al-musabbabiyyah), karena tidak ada seseorang pun yang secara terbuka mengajak orang lain masuk Jahannam. Abwâb Jahannam dalam hadits ini, menegaskan bahwa apa yang mereka serukan adalah hal-hal yang secara qath’i bertentangan dengan akidah dan syari’at Islam.
Al-Hafizh al-Nawawi (w. 676 H) dalam Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim (XVIII/13) menguraikan makna du’ât[un] ’alâ abwâb jahannam, bahwa mereka adalah siapa saja dari para pemimpin yang menyeru kepada bid’ah (penyimpangan dari Islam), atau kesesatan lainnya, seperti khawarij dan qaramithah (syî’ah bathiniyyah isma’iliyyah). Al-Asyraf, dinukil al-Mulla Ali al-Qari (w 1014 H) dalam Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh (VIII/3380) menjelaskan makna du’ât[un] ’alâ abwâb jahannam, yakni kelompok yang menyeru manusia kepada kesesatan, dan menghalangi mereka dari petunjuk Islam, dengan beragam jenis tipu daya, dan dari kebaikan menuju keburukan, dari sunnah menuju bid’ah, dan dari sifat zuhud kepada cinta dunia.
Jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-
Maka suara-suara sumbang di zaman ini yang menyeru kepada virus-virus pemikiran seperti ideologi komunisme, sosialisme, marxisme, dan kapitalisme, serta ragam pemikiran menyimpang seperti materialisme, sekularisme, liberalisme, pluralisme, relativisme, feminisme, liberalisme berbaju moderatisme, begitu pula kebebasan Demokrasi dan HAM yang menjadi lahan tumbuh suburnya kesesatan dan penyimpangan seperti LGBT, pemurtadan dan penistaan pada Islam, itu semua hakikatnya termasuk seruan pada Jahannam.
Bahkan bukan hanya diserukan, paham-paham menyimpang ini pun dikemas dengan retorika manis, relevan dengan gambaran dalam peringatan Rasulullah ﷺ:
«إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ»
“Sesungguhnya yang paling dikhawatirkan dari apa-apa yang aku khawatirkan atas umatku adalah setiap orang munafik yang pandai bersilat lidah.” (HR. Ahmad, al-Bazzar)
Hadits ini mengandung peringatan atas kaum Muslim agar waspada terhadap kaum munafik yang pandai bersilat lidah, ikut menjustifikasi dan mendukung berbagai penyimpangan pemikiran dan perbuatan, mengelabui kaum Muslim dan menyimpangkannya dari ajaran Islam, Allâh al-Musta’ân.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
الخطبة الثانية
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh
Lalu, bagaimana sikap kita menyikapi para penyeru kepada kesesatan tersebut dengan kesesatannya? Nabi ﷺ dalam hadits di atas sudah memberikan taujîh (arahan):
Pertama, Berlindung kepada jamâ’at al-muslimîn wa imâmahum, menggambarkan entitas kaum Muslim yang bersatu dalam satu kepemimpinan Islam, yang kemudian diistilahkan secara syar’i oleh para ulama dengan istilah khilâfah ‘alâ minhâj al-nubuwwah, karena hanya sistem kepemimpinan Islam dalam sunnah Nabi ﷺ yang menjadi simbol bagi persatuan kaum Muslim di bawah satu pemimpin, relevan dengan sifat junnah dalam hadits dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim)
Al-Hafizh Abu Zakariya bin Syarf al-Nawawi (w. 676 H) dalam Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim bin al-Hijâz (XII/230) menjelaskan bahwa al-Imam berfungsi memelihara kemurnian ajaran Islam, rakyat berlindung kepadanya dan mereka tunduk kepada kekuasaannya. Al-Imam Badruddin al-‘Aini (w. 855 H) dalam ‘Umdat al-Qârî Syarh Shahîh al-Bukhâri (XIV/222) menjelaskan bahwa al-imâm sesungguhnya melindungi kaum Muslim dari tangan-tangan musuh dan melindungi kemurnian ajaran Islam. Hal itu direalisasikan dengan menerapkan sanksi yang tegas bagi mereka yang menyebarkan paham-paham sesat menyesatkan kaum Muslim.
Kedua, Wajib meninggalkan golongan penyeru kepada Jahannam tersebut dengan segenap daya dan upaya. Ungkapan “menggigit akar pohon” merupakan bentuk kiasan yang dipinjam (al-isti’ârah al-tamtsîliyyah) untuk menggambarkan keteguhan meninggalkan para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam, ditegaskan lafal taukîd lafzhî: kull, pada frasa al-firaq[a] kullaha, yang meneguhkan makna cakupan seluruh golongan tersebut.
Kalimat man ajâbahum ilayhâ fadzafûhu fîhâ yakni siapa saja yang menyambut, yakni menjawab dan membenarkan seruan para penyeru Jahannam ini maka akan terjerumus pula pada Jahannam. Jika demikian adanya ganjaran bagi siapa saja yang menjawab seruan para penyeru Jahannam, maka bagaimana jadinya jika orang yang diseru, akhirnya menjadi penyeru pula kepada Jahannam? Maka hendaklah setiap muslim waspada:
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ٥٥
“Dan tetap lah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Dzâriyât [51]: 55)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh
Kepada Allah kita berdoa dijauhkan dari fitnah dunia dan akhirat:
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Dukung Lahirnya 1 Juta Dai Quran!
Jadilah bagian dari perjuangan dakwah ini dengan menjadi Orang Tua Asuh dalam program Beasiswa Dai Quran (BDQ).
📍 Kunjungi: cintaquran.center/orang-tua-asuh


