Search
Close this search box.

KEUTAMAAN AHLI ILMU DI ATAS AHLI IBADAH

Keutamaan Ahli Ilmu di Atas Ahli Ibadah

KEUTAMAAN AHLI ILMU DI ATAS AHLI IBADAH

Oleh: R Ageung Suriabagja, S.H.I., M.Ag. | Dosen Cinta Quran Center

 

Salah satu hal yang sangat dimuliakan dalam Islam adalah ilmu. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut ini,

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ 

“Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian, ” kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Sesungguhnya Allah, MalaikatNya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” 

Hadits ini diriwayatkan dalam Sunan at Tirmidzi, Kitab al-‘Ilm, Bab Mâ Jâa fî Fadhl al-‘Ilmi ‘alâ al-‘Ibâdah.

Berkenaan dengan hadits di atas, menurut Ali bin Sulthan Muhammad al Qari dalam Mirqât al-Mafâtih, yang dimaksud al-‘âlim di sini adalah orang yang berilmu dalam ilmu-ilmu syar’i, berbarengan dengan dirinya menjalankan kewajiban-kewajiban ‘ubudiyah. Sedangkan menurut Muhammad bin Ismail al ‘Amir as Shan’ani dalam kitab At Tanwir Syarh Al Jami’ as Shagir, al-‘âlim adalah orang yang menyebarkan ilmunya.

Al-‘alim juga diartikan orang yang memiliki ilmu sehingga dengan ilmunya itu ia dapat menjalankan ibadah baik ibadah badan seperti salat, puasa, dan sebagainya, maupun ibadah qalbu seperti tawakul, khusyu’ dan sebagainya.

Adapun yang dimaksud dengan al-‘âbid (ahli ibadah) menurut Al Qari adalah orang yang orang yang mengabdikan dirinya hanya untuk ibadah saja. Bisa juga âbid diartikan sebagai orang yang sungguh-sungguh dalam beribadah.

Sabda beliau, “keutamaan âlim (ahli ilmu) atas âbid (ahli ibadah) sebagaimana keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian (sahabat)”, menurut At Thayibi, bermakna bahwa seorang âlim haruslah menjalankan ibadah dan seorang ahli ibadah haruslah beribadah atas dasar ilmu. Dapat dipahami, kedudukan ilmu amat penting, sebab ilmu harus lebih didahulukan daripada amal. Bahkan, ke-shahih-an amal sangat bergantung kepada ilmu. 

Hal tersebut wajar, mengingat kalimat “sebagaimana keutamaanku atas yang paling rendah di antara kalian” merupakan kalimat dengan uslub (gaya) mubâlaghah (hiperbolik) untuk menunjukkan ketinggian derajat orang alim di atas ahli ibadah. Dari sini dapat dipahami mengapa ilmu lebih ditinggikan atas amal. Sebab, tanpa ilmu, pelaksanaan amal ibadah dapat terjerumus ke dalam kesalahan. Karenanya, seorang ahli ibadah mestilah berupaya untuk memperoleh manfaat ilmu lewat aktifitas ta’lim (pengajaran) yang diberikan oleh para ‘âlim, dalam rangka memperbaiki amal ibadahnya. Hal ini juga sekaligus menunjukkan keutamaan para ‘âlim yang mengajarkan ilmunya kepada masyarakat, khususnya kepada ahli ibadah.

Rasulullah saw menambahkan bahwa Allah, penduduk langit, yakni para malaikat dan penduduk bumi, yakni manusia, jin dan hewan-hewan bershalawat atas para ‘alim. Maksud bershalawat di sini adalah mendo’akan. Apa sebab semua makhluk mendoakan orang ‘alim? Sebabnya adalah aktifitasnya menyebarkan ilmu. Dari sini dapat diambil pelajaran penting bahwa ilmu itu manfaatnya lebih luas dari ibadah. Sebab, ilmu itu sendiri pada dasarnya adalah wajib untuk dicari, sedangkan melaksanakan ibadah nafilah (sunnah) itu tidak wajib. Sampai-sampai Imam as Syafi’I rahimahullah ta’ala menegaskan bahwa,

ما عبد الله بشيء أفضل من فقيه في دين ، ولفقيه أشد على الشيطان من ألف عابد ، ولكل شيء عماد ، وعماد هذا الدين الفقه

“Tidak ada hamba Allah yang paling utama selain orang faqîh (paham) akan agama. Sungguh orang faqîh lebih berat bagi setan daripada seribu ahli ibadah. Setiap segala sesuatu ada pilarnya, sedangkan pilar agama ini adalah fiqh (pemahaman/ilmu).”

Syekh Abdul Fattah Abu Ghudah dalam Ar Rasul al Mu’alim juga menyebut bahwa hanya di dalam Islam terdapat taqdîsul ‘ilm (pengkudusan/penyanjungan atas ilmu). 

Wajar jika dalam sejarah peradaban Islam, dunia Islam dikenal sebagai kiblat ilmu pengetahuan selama berabad-abad. Baghdad, Damaskus, Kairo, Qurtubah, hanyalah sebagian kecil di antara kota-kota besar dalam peradaban Islam di mana kampus-kampus terkenal dunia berdiri, menjadi tempat belajar baik kaum muslim maupun non-muslim, dan telah menelurkan sekian banyak ilmuwan, baik dalam bidang keagamaan maupun sains dan humaniora. Sudah menjadi rahasia umum bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang tegak atas dasar ilmu, berjalan dengan ilmu, dan menyanjung keilmuan.

Karena itu, umat Islam hari ini seyogyanya terdorong untuk meninggikan aktivitas keilmuan dan mencetak sebanyak mungkin ahli ilmu agar dapat kembali meraih gelarnya sebagai kiblat ilmu pengetahuan dunia.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Update lain

Logo Cinta Quran Center

CintaQuran Center merupakan Pesantren Tahfizh Al-Quran yang terintegrasi dengan Program pendidikan kaderisasi untuk melahirkan Da’i yang siap menggemakan kecintaan Umat terhadap Al-Quran.

© Copyright CintaQuran®Center All Rights Reserved.