BMM Edisi ke-38: “Board of Peace (BOP) & Jerusalem The Promised Land?”

BMM Edisi ke-38: “Board of Peace (BOP) & Jerusalem The Promised Land?”

BINTARO—Isu Palestina kembali menjadi sorotan dalam Baḥts al-Masā’il al-Mu‘āṣirah (BMM) Edisi ke-38 yang diselenggarakan Cinta Quran Center pada Senin malam, 16 Februari 2026, pukul 20.00 WIB di Auditorium CQC. Mengangkat tema “Board of Peace (BOP) & Jerusalem The Promised Land?”, forum ilmiah ini digelar secara luring dan disiarkan langsung melalui YouTube agar dapat diikuti lebih luas oleh masyarakat.

Kegiatan dibuka dengan basmalah bersama dan ice breaking singkat yang mencairkan suasana, dilanjutkan tilawah Al-Qur’an oleh Farel dan Zahir dari Surah Al-Hujurat ayat 9–10 tentang pentingnya ishlah dan keadilan di tengah konflik. Sejak awal, moderator Ferdian Alfarizki menegaskan bahwa isu Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, tetapi menyangkut akidah dan kedaulatan umat Islam.

Tim akhwat dari kamar 3 mendapat kesempatan pertama untuk memaparkan kajian bertajuk “Jerusalem The Promised Land”. Dalam presentasi selama 20 menit, mereka mengkaji secara kritis klaim teologis Yahudi tentang tanah yang dijanjikan sebagaimana disebut dalam Genesis 17:8, lalu menelusuri bagaimana konsep tersebut bertransformasi menjadi ideologi politik Zionisme sejak gagasan Theodor Herzl.

Para pemateri menegaskan bahwa klaim tersebut bertentangan dengan perspektif Islam. Mereka mengangkat dalil dari Al-Maidah ayat 21 yang menunjukkan bahwa perintah memasuki tanah suci saat itu bersifat kontekstual bagi Bani Israil pada masa Nabi Musa, bukan klaim abadi lintas zaman. Al-A’raf ayat 128 juga ditegaskan sebagai prinsip bahwa bumi adalah milik Allah dan diwariskan kepada siapa yang Dia kehendaki, bukan monopoli suatu etnis. Salah satu pernyataan yang mengemuka dalam forum adalah bahwa klaim “Promised Land” telah bergeser dari konsep teologis menjadi ideologi politik yang melegitimasi kolonialisme modern.

Presentasi kedua disampaikan tim ikhwan dari kamar 2 yang mengulas “Board of Peace” sebagai inisiatif politik yang dinilai tidak menyentuh akar persoalan. Mereka mengkritik gagasan perdamaian yang tidak dibangun di atas keadilan. Dalil dari An-Nisa ayat 135 tentang kewajiban menegakkan keadilan serta Hud ayat 113 tentang larangan condong kepada kezaliman menjadi landasan argumentasi mereka. Dalam paparan tersebut ditegaskan bahwa perdamaian tanpa keadilan bertentangan dengan prinsip syariat Islam.

Forum semakin hidup ketika sesi tanggapan juri dimulai. Ustaz Ageung Suriabagja dan Ustazah Sri Rianti memberikan kritik yang tajam namun konstruktif. Tim akhwat diminta untuk memperdalam eksplorasi internal terhadap teks-teks Yahudi dan memperkuat analisis historis agar tidak berhenti pada bantahan normatif. Sementara tim ikhwan dikritisi dalam penggunaan istilah dan kaidah yang perlu diperjelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman konseptual. “Gimana bisa dalam konteks solusi Islam tidak muncul istilah jihad? Solusi Palestina menurut Islam adalah jihad fisabilillah… masa kita menuntut keadilan pada penjajah?”, tegas Ustadz Ageung dalam sesi tanggapan ini.

Diskusi berlangsung serius tetapi tetap hangat. Tepuk tangan kerap terdengar setelah argumen yang kuat. Di sela-sela forum, moderator juga menyelipkan candaan ringan yang membuat suasana tetap cair tanpa mengurangi bobot ilmiah. Peserta yang hadir secara langsung maupun daring dari berbagai daerah menunjukkan antusiasme tinggi, terlihat dari respons aktif dan komentar selama siaran berlangsung.

Pada bagian penutup, Ustaz Ageung menyampaikan kesimpulan bahwa klaim “Promised Land” bersifat temporer dan tidak dapat dijadikan legitimasi permanen. Ia menekankan bahwa solusi atas persoalan Palestina dalam perspektif Islam harus berpijak pada prinsip keadilan dan keteguhan akidah. Forum ditutup dengan hamdalah dan doa kafaratul majelis.

BMM edisi ini kembali menegaskan peran Cinta Quran Center sebagai kampus yang melatih santrinya berpikir kritis, membangun argumentasi berbasis dalil, serta berani mengkaji isu geopolitik kontemporer dari perspektif Islam. Melalui forum seperti ini, para mahasantri tidak hanya belajar teori, tetapi juga ditempa untuk menjadi dai yang mampu membaca realitas global dengan kacamata syariat.

Sebagaimana visi CQC sebagai kampusnya para dai, BMM menjadi ruang latihan intelektual sekaligus penguatan keberpihakan terhadap kebenaran. Dari forum ilmiah inilah lahir generasi yang bukan hanya mampu berbicara, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan setiap argumennya di hadapan ilmu dan umat. [] Sajid


Dukung Lahirnya 1 Juta Dai Quran!

Jadilah bagian dari perjuangan dakwah ini dengan menjadi Orang Tua Asuh dalam program Beasiswa Dai Quran (BDQ).

📍 Kunjungi: cintaquran.center/orang-tua-asuh

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Update lain

Logo Cinta Quran Center

CintaQuran Center merupakan Pesantren Tahfizh Al-Quran yang terintegrasi dengan Program pendidikan kaderisasi untuk melahirkan Da’i yang siap menggemakan kecintaan Umat terhadap Al-Quran.

© Copyright CintaQuran®Center All Rights Reserved.