Beyond the Graduation: Melepas Kisah, Merangkai Asa
JAKARTA—“Beyond the Graduation: Melepas Kisah, Merangkai Asa” terasa tepat menggambarkan suasana Wisuda Cinta Quran Center 2026 yang digelar pada Sabtu, 7 Februari 2026 di Granada Ballroom, Menara 165 TB Simatupang, Jakarta Selatan. Sebanyak 125 mahasantri dan mahasantriwati secara resmi dilepas setelah menempuh proses pendidikan dan pembinaan di Cinta Quran Center. Mereka berasal dari lebih dari 30 provinsi, membawa kisah perjuangan masing-masing, sekaligus merangkai asa untuk melanjutkan estafet dakwah Al-Qur’an ke berbagai penjuru negeri dan dunia.
Acara dibuka dengan pembacaan tilawah Al-Qur’an Surah Al-Insyirah, dilanjutkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars CQC. Adam Anditra selaku MC memandu rangkaian acara dengan tertib dan penuh semangat dakwah, menjaga suasana tetap khidmat dari awal hingga akhir.
Sambutan disampaikan oleh Ust. Syafaat Nuradi, M.M., Executive Director Cinta Quran Center. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa CQC lahir dari kegelisahan atas minimnya dai Al-Qur’an di Indonesia. Hari itu, kegelisahan tersebut dijawab dengan kelulusan 125 santri dari lebih dari 30 provinsi, yang siap berdakwah tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di panggung global.
Perwakilan Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan, Dr. Almahdi Akbar, turut menyampaikan sambutan. Ia menyoroti krisis literasi Al-Qur’an di Indonesia, dengan data bahwa lebih dari 70 persen masyarakat masih belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, serta minimnya jumlah dai dan penyuluh agama. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa dai, meski hanya seperti lilin, tetap memiliki peran besar untuk menerangi kegelapan umat.
Memasuki prosesi wisuda, satu per satu wisudawan dan wisudawati dipanggil ke depan. Prosesi ini disertai estafet dakwah simbolis, sebuah penanda bahwa perjuangan dakwah tidak berhenti di bangku pendidikan, melainkan justru dimulai setelah kelulusan.
Rangkaian wisuda semakin bermakna dengan pesan-pesan risalah dari para dai dan ulama nasional dan internasional. Sambutan pertama datang dari sebuah video, Prof. Dr. Syafi’i Antonio yang berhalangan hadir karena tengah menjalankan ibadah umrah di Masjidil Haram, memberi penguatan bahwa dakwah Al-Qur’an adalah amanah lintas generasi.
Syaikh Sami Salim Al-Mishry dari Mesir menyampaikan tiga pesan utama dakwah yang bersumber dari Quran Surah Al-Fusshilat, yakni keikhlasan, hikmah, dan istiqamah. Pesan ini menegaskan bahwa kekuatan dai tidak terletak pada popularitas, tetapi pada keteguhan hati.
Dari Belanda, Ustaz Mikail Hasan memberikan motivasi dalam bahasa Inggris. Ia mengajak para wisudawan untuk bangga menjadi dai, memiliki ambisi global, serta membangun visi kepemimpinan dan kewirausahaan agar dakwah mampu berdiri kokoh di berbagai belahan dunia.
Sementara itu, Ustaz Fadlan Garamatan mengingatkan bahwa dakwah sejatinya seperti air yang mengalir. Tenang, konsisten, dan memberi kehidupan. Ia menyebut para wisudawan sebagai PNS, Pegawai Nabi Muhammad ﷺ, yang tugasnya membangun umat, bukan hanya secara spiritual tetapi juga fisik dan sosial.
Puncak risalah disampaikan oleh Ustaz Fatih Karim, Founder Cinta Quran Center. Dengan tegas namun hangat, ia menyampaikan satu pesan utama: jangan pernah meninggalkan dakwah. Ia menekankan tiga pilar yang menjadi fondasi pendidikan CQC, yaitu taqafah Islam, leadership, dan entrepreneurship, serta menyampaikan rasa syukur kepada para guru dan donatur yang telah membersamai perjalanan para santri.
Momentum wisuda semakin khidmat saat memasuki sesi ikrar wisudawan. Seluruh wisudawan dan wisudawati berdiri dengan penuh kesadaran, mengikuti pembacaan ikrar yang dipimpin oleh Ustaz Irfan Ramdan Wijaya, M.Pd.I., selaku General Manager Akademik Cinta Quran Center. Ikrar tersebut dilanjutkan dengan ijazatul ilmi, sebagai izin dan amanah keilmuan. Dalam ikrar itu, para wisudawan menyatakan komitmen untuk memegang teguh akidah dan syariat Islam, menjaga amanah dakwah dengan kejujuran dan akhlak mulia, terus menuntut ilmu sepanjang hayat, serta memelihara ukhuwah dan tanggung jawab sebagai bagian dari umat dan bangsa. Ikrar ini menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari amanah dakwah yang akan terus mereka emban sebagai dai Cinta Quran Center.
Dalam sesi orasi ilmiyyah, Muhammad Alfaruq selaku perwakilan wisudawan dan wisudawati menegaskan bahwa hari wisuda bukanlah tentang hafalan atau gelar semata, melainkan tentang lahirnya dai sebagai penggerak peradaban. Ia menekankan bahwa dai adalah pewaris para nabi yang tugasnya bukan berhenti pada ilmu di kepala atau hafalan di dada, tetapi turun ke tengah umat dan menghidupkan Al-Qur’an dalam realitas kehidupan. “Dai membawa Al-Qur’an keluar dari mushaf. Dia turun ke umat. Dai adalah mereka yang mengubah teks menjadi gerakan,” ungkapnya. Mengakhiri orasinya, ia mengajak seluruh wisudawan untuk menguatkan hati dan menegakkan kepala, karena kebangkitan umat dan perubahan sejarah menanti peran mereka, seraya menyampaikan rasa syukur kepada para guru dan pembina, khususnya Ustaz Fatih Karim, yang telah membersamai proses lahirnya dai-dai Qurani.
Beberapa wisudawan berprestasi mendapat apresiasi khusus berupa hadiah umrah, di antaranya Imad Hafiz Abdurrahman sebagai dai teladan yang telah diberi kepercayaan dalam safari dakwah Jepang, Muhammad Alfaruq dai leader mantan ketua BEM dengan capaian akademik tinggi, Ghiza Fatih Indana Putra yang memiliki pengalaman event nasional, dan juga Adzkia Tsabita Kamila, peraih IPK tertinggi yang melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar.
Forum alumni juga resmi dikukuhkan, dengan Ghiza Fatih Indana Putra dan Khairiza Umami sebagai pimpinan, menandai kesinambungan gerakan dakwah para lulusan CQC.
Suasana wisuda dipenuhi rasa haru dan syukur. Tangis pecah saat salah satu orang tua wisudawan, ibu dari Adzkia Sabita Kamila, menceritakan perjuangan mendampingi anaknya yang pernah sakit dan merasa tertinggal, hingga akhirnya lulus dengan capaian terbaik. Momen sujud syukur wisudawan terbaik yang menerima hadiah umrah menjadi salah satu detik paling menyentuh dalam acara tersebut.
Salah satu momen yang menguatkan makna wisuda datang dari Bapak Triwido Pramono, salah satu orang tua asuh yang selama ini mendukung pendidikan para santri Cinta Quran Center. Ia mengungkapkan rasa bangganya bisa menyaksikan wisuda ini sebagai bagian dari sebuah keluarga baru yang terikat bukan oleh hubungan biologis, melainkan oleh visi perjuangan. Baginya, mendukung CQC adalah pilihan yang hampir tak perlu dipikirkan lama, sebab program ini jelas bertujuan mencetak dai-dai Al-Qur’an. “Rasanya justru naif kalau tidak ikut mendukung,” tuturnya. Ia merasakan manfaat yang berlapis, bukan hanya di dunia melalui transparansi dan amanah pengelolaan, tetapi juga di akhirat melalui pahala dari setiap ayat yang dibaca dan dakwah yang disampaikan para santri. Dengan ikatan emosional yang tumbuh kuat, ia mengajak seluruh pihak untuk istiqamah membersamai perjuangan ini, karena wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan para dai dalam mengabdi kepada umat.
Wisuda CQC 2026 menampilkan profil lulusan yang mencerminkan visi CQC. Para mahasantri tidak hanya dibekali hafalan Al-Qur’an, tetapi juga pemahaman Islam yang komprehensif, kemampuan kepemimpinan, serta jiwa kewirausahaan. Mereka dipersiapkan untuk berdakwah di masjid, ruang digital, komunitas masyarakat, hingga kancah internasional.
Sepanjang masa pendidikan, para santri tercatat telah mengisi lebih dari 100 kajian dan mengikuti 50 program pengabdian masyarakat. Alumni CQC kini tersebar di berbagai wilayah Indonesia, bahkan hingga Mesir dan Arab Saudi.
Hal yang cukup menarik dalam prosesi ini adalah fakta bahwa seluruh rangkaian Wisuda Cinta Quran Center 2026 ini digarap sepenuhnya oleh para santri. Mulai dari perencanaan konsep acara, teknis pelaksanaan, dokumentasi, hingga pengaturan alur wisuda, semuanya dikelola langsung oleh mahasantri CQC. Hal ini menjadi bukti bahwa proses pendidikan di CQC tidak hanya membentuk kemampuan akademik dan dakwah, tetapi juga melatih kemandirian, kepemimpinan, serta kemampuan manajerial santri dalam mengelola acara berskala besar secara profesional.
Doa penutup yang dipimpin Dr. Almahdi Akbar menandai berakhirnya rangkaian wisuda. Namun bagi para lulusan, hari itu justru menjadi titik awal perjalanan panjang sebagai dai Quran.
Wisuda Cinta Quran Center 2026 menegaskan bahwa perjuangan dakwah tidak berhenti di aula wisuda. Ia berpindah tangan, dari guru kepada murid, dari generasi ke generasi. Dari satu tempat, untuk Indonesia, bahkan untuk dunia.
Dukung Lahirnya 1 Juta Dai Quran!
Jadilah bagian dari perjuangan dakwah ini dengan menjadi Orang Tua Asuh dalam program Beasiswa Dai Quran (BDQ).
📍 Kunjungi: cintaquran.center/orang-tua-asuh

















