Bagaimana Rasulullah ﷺ Menghidupkan Ramadhan Bulan Al-Qur’an? – Khuthbah Cinta Quran Center

Bagaimana Rasulullah ﷺ Menghidupkan Ramadhan Bulan Al-Qur’an?

Khuthbah Cinta Quran Center “Kampusnya Para Da’i, dari Sini untuk Dunia”
Vol. 3/ No. 10 | Topik: Ramadhan

Download PDF naskah khuthbah>>> Khuthbah CQC Vol. 3 No. 10 – Bagaimana Rasulullah ﷺ Menghidupkan Ramadhan Bulan Al-Qur’an

الخطبة الأول

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أُوصِينِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} [النساء: ١]

Hadirin jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, berakidah Islam dan beramal dengan syari’at Islam, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ۝١٠٢

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Hadirin jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-

Ramadhan syahr al-Qur’an, yakni bulan madrasah al-Qur’an, al-Qur’an dibaca dan dipelajari, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ, dari Ibn ’Abbas r.a., ia berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ»

Rasulullah ﷺ adalah sosok paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril a.s. menjumpai Nabi ﷺ, dan Jibril a.s. menjumpainya setiap malam di bulan Ramadhan dan mengajarkannya al-Qur’an.” (HR. Al-Bukhari, Ahmad, al-Nasa’i)

Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Lathâ’if al-Ma’ârif (hlm. 169) menjelaskan:

Ini versi yang sudah dibenerin & dirapihin (huruf disambung + tanda baca):

دَلَّ الْحَدِيثُ عَلَى اسْتِحْبَابِ دِرَاسَةِ الْقُرْآنِ فِي رَمَضَانَ، وَالِاجْتِمَاعِ عَلَى ذَلِكَ، وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ الإِكْثَارِ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ.

“Hadits ini menunjukkan anjuran mempelajari (mendalami) al-Qur’an pada bulan Ramadhan, serta berkumpul untuk melakukan hal tersebut, dan di dalamnya pun terdapat dalil anjuran memperbanyak bacaan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan.”

Ibn Rajab pun merincikan bahwa dalam hadits Ibn Abbas r.a. terdapat dalil bahwa mudārasah (saling mempelajari al-Qur’an) antara Nabi ﷺ dan Jibril a.s. terjadi pada malam hari, menunjukkan dianjurkannya memperbanyak tilawah al-Qur’an di malam hari pada bulan Ramadhan, karena pada malam hari berbagai kesibukan terhenti, konsentrasi menjadi terkumpul, dan hati serta lisan saling bersesuaian untuk bertadabur; sebagaimana firman Allah:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا ۝٦

“Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih kuat (kesannya) dan lebih tepat untuk bacaan.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 6)

Namun Rasulullah ﷺ pun mencontohkan Ramadhan menjadi bulan perjuangan, menegakkan penerapan hukum-hukum al-Qur’an, hukum-hukumnya diimani, dipelajari, ditadaburi, didakwahkan dan dibela dari ragam penyimpangan. Momentum perang Badr al-Kubrâ’ di tengah teriknya panas matahari Ramadhan adalah momentum menguji kekuatan kaum Muslim pasca tegaknya kekuasaan Islam, Al-Dawlah al-Islâmiyyah di Yastrib (al-Madînah al-Munawwarah), peristiwa yang terekam apik terjadi di tanggal 17 Ramadhan pada tahun kedua hijriyyah, dimana al-Qur’an menyebutnya dengan istilah yawm al-furqân (lihat: QS. Al-Anfâl [8]: 41), sebagaimana tanggal 20 Ramadhan pada tahun kedepalan hijriyyah menjadi momentum Fath Makkah (penaklukkan Kota Makkah), sebagai momentum agung meluasnya kekuasaan Islam, hingga membebaskan Ka’bah dan Kota Makkah dari syi’ar-syi’ar jahiliyyah, menjadi pusat dakwah al-Qur’an ke seluruh penjuru alam.

Menariknya, bulan Ramadhan bukan hanya bulan madrasahnya al-Qur’an, tapi juga bulan dibumikannya hukum-hukumnya dalam seluruh aspek kehidupan. Allah berfirman menyifati Ramadhan sebagai syahr al-Qur’ân, yakni bulan ketika al-Qur’an diturunkan, bukan turun untuk diabaikan (mahjûr[an]), melainkan wajib ditegakkan mengatur seluruh aspek kehidupan:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۝١٨٥

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Yakni al-Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari al-lauh al-mahfuzh ke bayt al-‘izzah di langit dunia di bulan Ramadhan, khususnya di malam laylat al-qadr (lihat: QS. Al-Qadr [97]: 1, QS. Al-Dukhân [44]: 3), dan ia diturunkan dengan fungsi yang Allah tegaskan dalam ayat: hud[an] li al-nas wa bayyinât min al-hudâ wa al-furqân yakni “sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)”.

Maknanya, diuraikan Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr (hlm. 226): Pertama, Hud[an] li al-nâs, menunjuki mereka kepada jalan kebenaran dan kepada jalan yang lurus (Islam); Kedua, Bayyinât min al-hudâ, yakni mengandung dalil-dalil tegas (dalâ’il qâthi’ah) kemukjizatan bahwa ia merupakan petunjuk yang Allah turunkan; Ketiga, Al-Furqân yakni yang memisahkan antara perkara haqq dan bâthil, dan antara perkara kebaikan dan keburukan, serta antara amal-amal shalih dan amal-amal buruk, relevan jika disenandungkan dalam Dîwân Ahmad Sahnûn:

وَهُوَ بَابٌ لِشَهْرِ رَمَضَانَ، شَهْرِ الْخَيْرِ، شَهْرِ الصِّيَامِ، شَهْرِ الْقِيَامِ.

“Dan ia (Sya’ban) adalah pintu bulan Ramadhan yang merupakan bulan kebaikan, bulan shaum dan bulan shalat malam.”

شَهْرِ وَحْيِ الْقُرْآنِ، شَهْرِ حَيَاةِ الْقَلْبِ، شَهْرِ الإِحْسَانِ وَالإِنْعَامِ.

“Bulan turunnya wahyu al-Qur’an, bulan kehidupan kalbu, bulan kebaikan dan berbagi.”

Menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk artinya menjadikan al-Qur’an sebagai panduan dan pedoman mengarungi kehidupan: individu, keluarga, kemasyarakatan, bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara, dari mulai aspek akidah, ibadah, mu’amalah, ’uqûbah hingga siyâsah, dan menjadikannya sebagai furqân, yakni sebagai pembeda atau pemisah antara kebenaran dan kebatilan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَبَعْدُ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. ۝١٠٢ [آل عمران]

Hadirin jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-

Al-Qur’an adalah petunjuk dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan! Maka jelas tergolong perbuatan mengabaikan al-Qur’an, jika seorang muslim menjadikan pluralisme sebagai akidahnya, sosialisme-marxisme sebagai paradigma sosial kemasyarakatannya, feminisme sebagai sudut pandang sosial gendernya, kapitalisme sebagai ideologi dan panduan sistem ekonominya, demokrasi sebagai paradigma politiknya, trias politica

sebagai pemikiran bernegaranya, hingga layak digolongkan seperti kaum Kuffar Quraysyi yang diadukan Rasulullahﷺ :

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا ۝٣٠

“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang diabaikan.” (QS. Al-Furqân [25]: 30)

Karena bentuk perbuatan menjadikan al-Qur’an mahjûr[an] itu beragam, sebagaimana uraian al-Hafizh Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Al-Fawâ’id (hlm. 82): Meninggalkan al-Qur’an memiliki beberapa bentuk: Pertama, Meninggalkan mendengarkannya, beriman kepadanya, dan menyimaknya; Kedua, Meninggalkan pengamalan isinya serta tidak berpegang pada ketentuan halal dan haramnya, meskipun ia membaca dan beriman kepadanya; Ketiga, Meninggalkan menjadikannya sebagai hakim dan rujukan hukum, serta tidak berhukum dan kembali kepadanya dalam pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya, dengan keyakinan bahwa Al-Qur’an tidak memberikan keyakinan yang pasti, dan bahwa dalil-dalilnya lafal semata yang tidak menghasilkan ilmu; Keempat, Meninggalkan tadabur dan pemahamannya, serta meninggalkan upaya mengetahui apa yang dikehendaki Allah melalui al-Qur’an tersebut; Kelima, Meninggalkan menjadikannya sebagai sarana penyembuhan dan pengobatan atas seluruh penyakit dan gangguan hati; sehingga ia mencari kesembuhan penyakitnya dari selain al-Qur’an dan meninggalkan berobat dengannya.

Al-Qur’an mewajibkan penerapan sanksi qishash atas kasus pembunuhan (QS. Al-Baqarah [2]: 179) sebagaimana mewajibkan shaum (QS. Al-Baqarah [2]: 183), jika di bulan Ramadhan kaum Muslim menunaikan ibadah shaum yang diwajibkan al-Qur’an, lantas mengapa tidak demikian adanya pengamalan ayat-ayat yang mewajibkan qishâsh, hudûd, jihad, sistem pemerintahan Islam, penegakkan hukum Allah, keharaman riba, keharaman berhukum kepada selain hukum Allah, dan lain sebagainya?

Kepada Allah kita berdoa dijauhkan dari fitnah dunia dan akhirat:

{إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} ۝٥٦ [الأحزاب]

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاجْعَلْ كَلِمَتَكَ هِيَ الْعُلْيَا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

عِبَادَ اللهِ!

{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ} [النحل: ٩٠]

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Dukung Lahirnya 1 Juta Dai Quran!

Jadilah bagian dari perjuangan dakwah ini dengan menjadi Orang Tua Asuh dalam program Beasiswa Dai Quran (BDQ).

📍 Kunjungi: cintaquran.center/orang-tua-asuh

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Update lain

Logo Cinta Quran Center

CintaQuran Center merupakan Pesantren Tahfizh Al-Quran yang terintegrasi dengan Program pendidikan kaderisasi untuk melahirkan Da’i yang siap menggemakan kecintaan Umat terhadap Al-Quran.

© Copyright CintaQuran®Center All Rights Reserved.