Pada hari Senin, 26 Oktober 2026, kegiatan Bahtsul Masail al-Muatsiroh (BMM) kembali menjadi wadah bagi para mahasantri dan mahasantriwati Cinta Quran Center untuk mengkaji persoalan-persoalan kontemporer melalui sudut pandang keislaman. Pada kesempatan kali ini, pembahasan mengangkat tema “Studi Kritik Fenomena Satanisme dalam Perspektif Islam”.
Tema tersebut dipilih untuk menelaah fenomena satanisme yang muncul dalam berbagai bentuk di tengah masyarakat, khususnya melalui perkembangan media digital yang memungkinkan informasi, simbol, dan pemikiran tersebar luas dalam waktu singkat.
Pada sesi presentasi tim akhwat, materi disampaikan oleh Nurhaliza Salsabila, Sausan Afrasana, Tsaqifah, dan Rifdah Azka Rofifah. Pemaparan mereka mendapatkan tanggapan dan pengujian dari Ustazah Sri Rianti, M.Ag., serta Ustaz Gustar Umam, M.Sos. Melalui kajian ini, tim akhwat berupaya membedah fenomena satanisme secara kritis dengan menjadikan ajaran Islam sebagai landasan utama dalam menilai berbagai pemikiran dan praktik yang berkaitan dengannya.

Dalam kajiannya, tim akhwat membahas fenomena satanisme yang muncul dalam berbagai bentuk, termasuk melalui simbol, hiburan, dan konten di media digital. Fenomena ini perlu disikapi secara kritis dengan memperhatikan fakta dan konteksnya, bukan sekadar berdasarkan asumsi atau informasi yang belum terverifikasi.

Dari perspektif Islam, pembahasan ini berkaitan erat dengan prinsip tauhid sebagai landasan utama keimanan. Setiap keyakinan dan praktik perlu ditimbang berdasarkan ajaran Islam, terutama apabila bertentangan dengan akidah. Oleh karena itu, umat Muslim perlu memperkuat pemahaman agama agar tidak mudah terpengaruh oleh konten yang berpotensi mengaburkan nilai-nilai keislaman.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama dewan penguji dan peserta. Berbagai pertanyaan menguji kedalaman pemahaman, ketepatan sumber rujukan, serta kemampuan pemateri dalam menyampaikan argumentasi secara sistematis. Diskusi ini menjadi kesempatan untuk mempertajam analisis dan menghubungkan ajaran Islam dengan fenomena yang berkembang di masyarakat.
Melalui kajian ini, para mahasantri dan mahasantriwati diingatkan akan pentingnya menjaga akidah, menyaring informasi secara bijak, serta membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Sikap kritis yang disertai ilmu dan adab menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital.

Kegiatan BMM ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman keislaman sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis para mahasantri dan mahasantriwati. Dengan bekal ilmu dan keimanan yang kokoh, mereka diharapkan mampu menyikapi fenomena kontemporer secara bijaksana serta senantiasa menjaga kemurnian tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin.[]Zidna Ilma Rosadanti


