Pelita dari Timur: Alumni CQC Jadi Imam Muda dan Pembina Umat di Papua
Sorong, Papua Barat Daya — Kabar membanggakan datang dari ufuk timur Indonesia. Abdul Fattah Iriwa, putra asli Suku Kokoda yang juga merupakan alumni Cinta Quran Center, baru saja resmi dikukuhkan menjadi “Imam Muda”. Pengangkatan ini dilakukan melalui sebuah prosesi adat dan keagamaan bertajuk Takabbir, sebuah tradisi pengangkatan imam dan khatib di wilayah tersebut.
Kiprah perdana Fattah sebagai Imam Muda ditandai dengan kepercayaannya memimpin Sholat Idul Fitri di Masjid Babul Jannah pada 21 Februari 2026 lalu. Dalam momen tersebut, Fattah tidak hanya bertindak sebagai imam jamaah, tetapi juga menyampaikan khutbah perdana dengan naskah yang disusunnya sendiri.
Di tanah Papua, gelar “Imam Muda” yang disandang Fattah bukanlah sekadar sebutan untuk pemandu sholat berjamaah. Ini adalah sebuah amanah dan gelar kehormatan. Seorang Imam Muda adalah da’i pelayan umat yang benar-benar terjun, menyelami, dan membersamai keseharian warga. Mulai dari mengisi pengajian, mengurus tahlilan, tasyakuran, hingga memanjatkan doa di setiap hajat masyarakat.
Kehadiran Fattah seolah mengisi ruang kosong yang selama ini dirindukan oleh masyarakat Muslim Papua, khususnya Suku Kokoda. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar ustadz yang datang untuk berceramah lalu pulang; mereka butuh sosok keluarga yang menetap dan membina. Tak heran, kehadirannya kini disambut dengan antusiasme luar biasa, terutama oleh para pemuda yang ingin belajar Islam lebih dalam langsung dari saudara sesukunya.
Kini, hari-hari Fattah dihabiskan untuk melayani umat. Tak jarang, waktunya habis seharian penuh berkeliling dari satu rumah ke rumah lain demi memenuhi panggilan warga. Dedikasinya pun mendapat pengakuan luas; Fattah kini memegang jadwal resmi dari Kementerian Agama (Kemenag) untuk mengisi khutbah Jumat secara bergilir di lebih dari 200 masjid di wilayah tersebut.
Langkah Fattah tak berhenti pada pelayanan personal. Menyadari besarnya tantangan dakwah ke depan, ia kini tengah merintis pembangunan Yayasan Rabiatul Milad. Perjuangan besar ini ia bangun bersama saudara seperjuangannya, Helmi, yang juga merupakan alumni angkatan pertama Cinta Quran Center asal Papua.
Meski pelita dakwah mulai menyala terang di Kokoda, Fattah mengingatkan bahwa tugas besar ini belum selesai dan tak mungkin dipikul sendirian.
”Saat ini saya harus melayani dan membina kebutuhan spiritual untuk sekitar 199 Kepala Keluarga (KK). Mengingat luasnya wilayah dan besarnya antusiasme warga, kita jelas masih butuh jauh lebih banyak da’i di tanah Papua,” ungkap Fattah dengan nada penuh harap.
Panggilan dari Papua ini adalah nyata. Estafet perjuangan itu tak boleh terputus. Saat ini, para da’i penerus Fattah tengah ditempa dan disiapkan di Cinta Quran Center. Langkah mulia telah dimulai, dan kini, tugas kita bersama untuk memastikan lahirnya lebih banyak pelita-pelita baru yang siap menerangi bumi Papua, Indonesia, dan Dunia. []Hadiid
Dukung Lahirnya 1 Juta Dai Quran!
Jadilah bagian dari perjuangan dakwah ini dengan menjadi Orang Tua Asuh dalam program Beasiswa Dai Quran (BDQ).
📍 Kunjungi: cintaquran.center/orang-tua-asuh







