Ramadhan dan Dua Perisai Keburukan
Khuthbah Cinta Quran Center “Kampusnya Para Da’i, dari Sini untuk Dunia”
Vol. 3/ No. 8 | Topik: Hadits
Download naskah khuthbah PDF>>> Khuthbah CQC Vol. 3 No. 8 – Ramadhan dan Dua Perisai Keburukan
الْخُطْبَةُ الْأُولَى
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أُوصِينِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} [النساء: ١]
Hadirin jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-
Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, berakidah Islam dan beramal dengan syari’at Islam, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ١٠٢
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)
Hadirin jama’ah Jum’at -rahimakumullâh-
Ramadhan menjadi momentum perjuangan menutup pintu-pintu keburukan, membuka pintu-pintu kebaikan. Ialah syahr al-Qur’an, selayaknya menyadarkan umat kepada kefardhuan tegaknya hukum-hukum al-Qur’an dalam seluruh aspek kehidupan lintas zaman. Ialah Ramadhan bulan terbelenggunya syaithan, Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ»
“Jika telah datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Muslim)
Di antara makna terbukanya pintu-pintu jannah dan tertutupnya pintu-pintu neraka adalah terbukanya pintu-pintu amal shalih, dilipatgandakannya pahala, terhalangnya ragam keburukan dan luasnya ampunan Allah karena shaum yang ditegakkannya, dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Siapa saja yang shaum Ramadhan, berdasarkan keimanan dan mencari keridhaan Allah, diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Muttafaqun ‘Alayh)
Makna îmân[an] adalah shaum diamalkan dengan landasan akidah Islam dan ihtisâb[an] adalah shaum diamalkan sejalan dengan tujuan syari’at Islam. Makna shuffidat al-syayâthîn secara hakiki bermakna terbelenggunya syaithan golongan jin sehingga tak bebas menggoda manusia, sedangkan secara majâzî (kiasan) bermakna terhalangnya upaya syaithan golongan jin menyesatkan dan menggoda manusia, tertutupnya pintu-pintu keburukan.
Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bârî (IV/114) menukil uraian al-Hafizh al-Qurthubi, bahwa kejahatan dan kemaksiatan itu berkurang jumlahnya dari orang-orang shaum yang benar-benar memelihara syarat dan adabnya. Sedangkan yang dibelenggu itu hanya sebagian dari golongan syaithan, yaitu yang ingkar saja dan bukan keseluruhan dari mereka. Kalaupun seluruh syaithan dibelenggu, maka bukan berarti tak mungkin terjadi keburukan. Karena keburukan ditimbulkan oleh sebab-sebab lain selain syaithan itu sendiri, semisal nafsu jahat, kebiasaan buruk, dan syaithan berwujud manusia.
Maka, Ramadhan menjadi momentum membangun kebiasaan yang baik: ibadah shaum, qiyam al-layl, tilawah al-Qur’an, berzakat dan bersedekah, menuntut ilmu dan mengkaji Islam, berdakwah dan lain sebagainya. Keseluruhan sistem ibadah ini, menjadi perisai bagi keburukan. Sejalan dengan ajaran Rasulullah ﷺ yang menyerupakan ibadah shaum dengan junnah (perisai) dari siksa neraka, karena ibadah shaum ditegakkan menjadi sebab ampunan Allah, dan menghalangi manusia dari keburukan, Rasulullahﷺ bersabda:
«قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ»
“Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman: puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka; dan puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya.” (HR. Ahmad)
Informasi “يَسْتَجِنُُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَُّار” (yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka) bisa dipahami secara majâzî bahwa dengan menegakkan ibadah shaum, seseorang terhindar dari keburukan yang menyebabkan datangnya siksa api neraka. Keburukan apa? Keburukan pribadi orang yang menegakkan ibadah shaum, ditunjukkan lafal al-‘abd (seorang hamba) pada frasa yastajinnu bihâ al-‘abd.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَبَعْدُ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. ١٠٢ [آل عمران]
Namun untuk mengunci rapat ragam keburukan yang sifatnya komunal dan sistemik, semisal fenomena masyarakat yang berbuka di siang hari Ramadhan secara terang-terangan tanpa ‘udzr syar’i, paham dan pemikiran menyimpang seperti liberalisme, pluralisme, feminisme, maka menutup pintu keburukan ini membutuhkan sistem kepemimpinan Islam dan peranan al- imam (khalifah) yang juga disifati Rasulullah ﷺ sebagai junnah, pelindung bagi umat manusia dari ragam keburukan, dari Abu Hurairah r.a., Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alayhi)
Hadits ini menyerupakan kedudukan al-imâm (khalifah pemimpin umat) sebagai junnah, perisai umat dalam bentuk tasybîh balîgh (penyerupaan sangat kuat), yang ditegaskan para ulama sebagai perisai dari segala keburukan. Bukan sekedar karena kokohnya kepribadian Islam pada diri seorang al-imâm, melainkan didukung sistem kepemimpinan Islam yang meniscayakan tampilnya syariat Islam mengatur kehidupan. Al-Hafizh al-Nawawi (w. 676 H) dalam kitab syarh-nya atas Shahîh Muslim (XII/230): Sabda Rasulullah ﷺ: Al-Imâm junnah yakni seperti al-sitr (pelindung), karena Imam (Khalifah) mencegah musuh dari perbuatan mencelakai kaum Muslim, dan mencegah sesama manusia (melakukan kezhaliman), memelihara kemurnian ajaran Islam, rakyat berlindung kepadanya dan mereka tunduk kepada kekuasaannya. Al-Imam al-Dahlawi (w. 1176 H) dalam Hujjatullâh al- Bâlighah (II/232):
أَقُولُ إِنَّمَا جَعَلَهُ بِمَنْزِلَةِ الْجُنَّةِ لِأَنَّهُ سَبَبُ اجْتِمَاعِ كَلِمَةِ الْمُسْلِمِينَ وَالذَّبِّ عَنْهُمْ.
”Aku katakan sesungguhnya Rasulullah ﷺ memposisikannya sebagai junnah (perisai) karena ia sebab kesatuan kalimat kaum Muslim dan melindungi mereka.”
Fungsi junnah atas keburukan komunal dan sistemik ini ditunjukkan Rasulullah ﷺ, dalam hadits dari Hudzaifah bin Yaman r.a. yang berkata:
فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا».
فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: «هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا».
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ».
“Aku bertanya: ‘Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?’ Beliau ﷺ menjawab: ‘Ya, para penyeru di pintu-pintu Jahannam; siapa yang memenuhi ajakan mereka, mereka lemparkan ke dalamnya.’ Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, jelaskan sifat mereka kepada kami.’ Beliau ﷺ bersabda: ‘Mereka dari (bangsa) kita sendiri dan berbicara dengan bahasa kita.’ Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mendapati masa itu?’ Beliau ﷺ bersabda: ‘Tetaplah bersama jamaah kaum muslimin dan imam mereka.’” (HR. Muttafaqun ‘Alayhi)
Rasulullah ﷺ menjadikan persatuan kaum Muslim dan seorang pemimpin mereka, sebagai solusi menghadapi para penyeru kepada kesesatan dan kebatilan yang menjerumuskan umat manusia kepada siksa jahannam, menunjukkan bahwa mengatasi kejahatan komunal dan sistemik membutuhkan peranan junnah dari sosok al-imâm (khalifah) dengan sistem kepemimpinan Islam yang ditegakkannya.
Menariknya, Rasulullah ﷺ bersabda menggambarkan keutamaan pemimpin adil dan orang shaum:
«ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ»
“Tiga orang yang tidak tertolak do’anya: al-Imam yang adil, orang shaum hingga berbuka, dan orang yang dizhalimi.” (HR. Al-Tirmidzi, Ahmad)
Kepada Allah kita berdoa dijauhkan dari fitnah dunia dan akhirat:
{إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} ٥٦ [الأحزاب]
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيسِيَا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاجْعَلْ كَلِمَتَكَ هِيَ الْعُلْيَا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
عِبَادَ اللهِ!
{إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ} [النحل: ٩٠]
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Dukung Lahirnya 1 Juta Dai Quran!
Jadilah bagian dari perjuangan dakwah ini dengan menjadi Orang Tua Asuh dalam program Beasiswa Dai Quran (BDQ).
📍 Kunjungi: cintaquran.center/orang-tua-asuh


